Rokok dan PPOK: Ancaman Serius bagi Perokok Aktif dan Pasif

13-06-2026 7 Artikel Kesehatan

Apa itu PPOK dan mengapa perlu diwaspadai?

Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) adalah penyakit paru yang terjadi karena adanya peradangan kronis pada saluran napas dan kerusakan jaringan paru, sehingga saluran napas menjadi menyempit dan elastisitas paru berkurang. Akibatnya, penderita akan merasa sesak napas.

PPOK bukanlah penyakit yang jarang terjadi.


Menurut World Health Organization (WHO), PPOK termasuk salah satu penyebab utama kematian di dunia. Jumlah penderitanya terus meningkat setiap tahun, terutama pada kelompok usia di atas 40 tahun. Di Indonesia, angka kejadian PPOK juga cukup tinggi dan sering berkaitan dengan paparan asap rokok dalam jangka panjang. Bahkan WHO menyebutkan angka kematian akibat pajanan rokok akan meningkat hingga 8,3 juta kematian per tahun pada tahun 2030.


Apa saja yang menyebabkan seseorang mengalami PPOK?

Rokok menjadi faktor risiko utama terjadinya PPOK. Tidak hanya pada perokok aktif, orang yang sering terpapar asap rokok dari lingkungan sekitar (perokok pasif) juga berisiko mengalami kerusakan paru.

Sayangnya, risiko pada perokok pasif sering kali kurang disadari.

Tanpa disadari, banyak orang terpapar asap rokok dalam aktivitas sehari-hari, seperti kebiasaan merokok di dalam rumah di dekat anggota keluarga, termasuk anak-anak, atau merokok saat berkendara yang membuat orang di sekitar ikut terpapar. Paparan yang tampak sepele ini menyebabkan individu yang tidak merokok tetap berisiko mengalami gangguan paru akibat paparan asap rokok secara berulang.

Selain rokok, terdapat beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami PPOK, antara lain:

●     Paparan polusi udara, baik di dalam maupun di luar ruangan, seperti asap kendaraan, asap dapur (kayu bakar), dan debu

●     Lingkungan kerja berisiko, misalnya paparan bahan kimia, asap, atau partikel debu dalam jangka panjang

●     Riwayat infeksi saluran pernapasan berulang, terutama pada masa kanak-kanak

●     Faktor usia, di mana risiko meningkat pada usia di atas 40 tahun

Meskipun terdapat berbagai faktor risiko, paparan asap rokok tetap menjadi penyebab utama yang paling dapat dicegah. Oleh karena itu, menghindari rokok dan asapnya merupakan langkah penting dalam mencegah terjadinya PPOK.

 

Gejala apa yang sering muncul dan kapan harus ke Dokter?

Gejala PPOK umumnya berkembang secara perlahan dan sering kali dianggap sebagai keluhan ringan, terutama pada perokok. Akibatnya, banyak penderita baru menyadari kondisi ini ketika gejala sudah cukup berat. Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain:

●     Batuk berkepanjangan

 Batuk yang terjadi hampir setiap hari, sering dianggap sebagai “batuk biasa” atau dampak merokok.

●     Produksi dahak berlebih

 Dahak yang terus-menerus muncul, meskipun tidak sedang flu atau infeksi, bisa menjadi tanda adanya gangguan pada saluran napas.

●     Sesak napas saat aktivitas ringan

 Awalnya hanya terasa saat aktivitas berat, tetapi lama-kelamaan muncul saat aktivitas ringan seperti berjalan atau naik tangga.

●     Mudah lelah

 Aktivitas sehari-hari terasa lebih berat dari biasanya karena tubuh kekurangan oksigen.

●     Napas berbunyi (mengi)

 Terdengar suara “ngik-ngik” saat bernapas akibat penyempitan saluran napas.

Gejala-gejala tersebut sering dianggap sebagai hal yang wajar, terutama pada perokok atau orang yang sering terpapar asap rokok. Padahal, semakin cepat PPOK dikenali, semakin besar peluang untuk memperlambat perkembangan penyakit dan menjaga kualitas hidup penderita.


Pemeriksaan apa yang diperlukan untuk memastikan PPOK?

Untuk memastikan diagnosis PPOK, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan yang bertujuan menilai fungsi paru dan mencari penyebab keluhan yang dialami.

Pemeriksaan utama yang digunakan adalah spirometri, yaitu tes sederhana untuk mengukur seberapa banyak dan seberapa cepat udara dapat dihirup dan dihembuskan oleh paru-paru. Pemeriksaan ini penting untuk mengetahui adanya hambatan aliran udara yang menjadi ciri khas PPOK.

Selain spirometri, dokter juga dapat melakukan pemeriksaan penunjang lain sesuai kebutuhan, seperti:

●     Foto rontgen dada untuk melihat kondisi paru dan menyingkirkan penyakit lain

●     CT scan paru pada kasus tertentu untuk melihat kerusakan paru lebih detail

●     Pemeriksaan darah untuk menilai kondisi umum dan kadar oksigen dalam tubuh

Pemeriksaan ini umumnya tidak memerlukan prosedur yang rumit dan dapat membantu dokter menentukan diagnosis serta tingkat keparahan PPOK, sehingga penanganan yang diberikan dapat lebih tepat.


Bagaimana penanganan PPOK?

Penanganan PPOK bertujuan untuk mengurangi gejala, meningkatkan kualitas hidup, serta mencegah kekambuhan dan komplikasi. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

●     Berhenti merokok

Ini adalah langkah paling penting. Menghentikan paparan asap rokok dapat memperlambat kerusakan paru dan mencegah kondisi menjadi lebih berat.

●     Pengobatan

Jika gejala memburuk, dokter dapat memberikan obat tambahan untuk mengatasi infeksi atau peradangan yang terjadi, pemberian oksigen, dan penggunaan obat inhaler.

●     Rehabilitasi paru

Program latihan dan edukasi yang membantu meningkatkan kapasitas paru serta daya tahan tubuh dalam beraktivitas.

Selain pengobatan, perubahan gaya hidup juga memegang peranan penting. Menghindari paparan asap rokok, menjaga aktivitas fisik sesuai kemampuan, serta rutin kontrol ke dokter dapat membantu menjaga kondisi tetap stabil.


Apa yang dapat terjadi jika PPOK tidak ditangani dengan baik?

PPOK yang tidak terkontrol dapat menyebabkan berbagai komplikasi, antara lain:

●     Infeksi paru berulang, seperti bronkitis atau pneumonia

●     Perburukan sesak napas (eksaserbasi akut) yang dapat memerlukan perawatan di rumah sakit

●     Gangguan jantung, terutama akibat beban kerja jantung yang meningkat

●     Penurunan kadar oksigen dalam darah, yang dapat memengaruhi fungsi organ tubuh

Komplikasi ini dapat menurunkan kualitas hidup dan, pada kondisi tertentu, berpotensi mengancam jiwa.

PPOK merupakan penyakit yang dapat berkembang secara perlahan namun berdampak serius jika tidak ditangani dengan baik. Dalam kondisi tertentu, PPOK dapat mengancam jiwa. Namun, dengan pengelolaan yang tepat dan konsisten, penyakit ini dapat dikontrol sehingga penderitanya tetap dapat menjalani hidup secara aktif dan produktif.

Lebih dari itu, pencegahan tetap menjadi langkah terbaik. Menghindari paparan asap rokok, baik sebagai perokok aktif maupun pasif, merupakan kunci utama untuk melindungi kesehatan paru sejak dini.


Ditulis oleh: dr. Okky Haidar Yahya Irawansa

Ditinjau oleh: dr. Sari Apriliana Rahmawati, Sp.P


Referensi:

Agarwal AK, Raja A, Brown BD. Chronic Obstructive Pulmonary Disease. [Updated 2023 Aug 7]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK559281/

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2019. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) Tata Laksana Penyakit Paru Obstruktif. Jakarta. KEMENKES RI.

World Health Organization. (2023). Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD).

Tersedia pada: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/chronic-obstructive-pulmonary-disease-(copd)

Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease. (2024). Global Strategy for the Diagnosis, Management, and Prevention of COPD (GOLD Report).

Tersedia pada: https://goldcopd.org